Tampilkan postingan dengan label BONSAI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BONSAI. Tampilkan semua postingan

Kriteria Tanaman yang Bisa Dibonsai

Tanaman hias atau pohon yang akan dibuat menjadi bonsai disebut dengan bakalan bonsai. Bakalan bonsai berupa tanaman yang diambil dari alam atau dari hasil perbanyakan, baik biji, setek, cangkok, okulasi, maupun enten. Dari mana pun asalnya, tanaman yang dimaksud harus memiliki kriteria-kriteria khusus untuk dapat dijadikan tanaman hias bonsai.

Kriteria Tanaman yang Bisa Dibonsai
Jika suatu tanaman hias telah memenuhi kriteria-kriteria untuk bisa dibonsai, tanaman tersebut dapat dijadikan bonsai dengan nilai ekonomi tinggi (harga tinggi). Umumnya, tanaman yang akan dibonsai harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut :

1. Tanaman dikotil, atau tanaman berkeping dua umumnya berbentuk pohon yang keras dan berekambium. Jenis tanaman inilah yang paling ideal dijadikan bonsai. Tanaman jenis monokotil (seperti jenis kelapa, bambu, semak dan perdu) bisa juga dikerdilkan, tetapi disebut denganbonsai sejati.

2. Berumur panjang, pasalnya, bonsai merupakan seni yang terus tumbuh, sehingga memerlukan tanaman yang bisa bertahan hidup puluhan, bahkan ratusan tahun.

3. Tahan hidup menderita, sebaiknya tahan hujan dan panas. Selain itu, juga tahan terhadap kondisi wadah yang sempit dan terbatas. Sebagai bonsai, tanaman harus biasa hidup terus meskipun jumlah makanan atau nutrisinya sedikit dengan perkembangan akar dan batang yang seadanya.

4. Bentuknya indah secara alami. Pohon yang akan dibonsai harus sudah memiliki daya tarik atau keindahan, baik daun, batang, akar, bunga, maupun buahnya. Keindahan tersebut akan semakin menonjol dan proporsional setelah mendapatkan perlakuan sesuai dengan tata cara pembonsaian yang benar.

5. Tahan mendapat perlakuan. Untuk mendapatkan bonsai yang sempurna, pohon atau bakal bonsai perlu diperlakukan dengan teknik-teknik tertentu (detraining, misalnya diiris, dipangkas, dan dililit dengan kawat guna untuk mendapatkan bentuk yang sempurna. Contoh tanaman yang bisa dibuat bonsai di antaranya, yaitu Azalea, Pinus, Asam, Ulmus, Jeruk, Beringin, Bougenvill, Buxux, Sianto, dan lain sebagainya.

Demikian sedikit penjelasan tentang kriteria tanaman yang bisa dibonsai. Semoga bermanfaat bagi Anda yang sedang ingin membuat bonsai.

Tanaman Hias Bonsai

Bonsai merupakan salah satu teknik memperindah tanaman hias sehingga tidak heran jika bonsai banyak disukai orang. Harga bonsai yang relatif mahal adalah daya tarik bagi pengusaha untuk menciptakan dan berbisnis dalam peronsaian. Umumnya tanaman yang bisa dipakai untuk bonsai adalah semua jenis tanaman yang memiliki umur hidup yang lama dan umumnya bonsai menggunakan tumbuhan berkayu tetapi ada juga tumbuhan lainnya. Sebenarnya siapa saja bisa membuat bonsai asal mau menekunan dan ulet.

Tanaman Hias Bonsai
Sampai saat ini bonsai masih menjadi tanaman hias yang diminati masyarakat. Selain bentuknya memang unik, bonsai juga memiliki karya seni tinggi. Tanaman bonsai dibudidayakan selain untuk dijual kepada para konsumen, tanaman ini juga dibudidayakan untuk dijadikan sebagai salah satu koleksi tanaman hias miniatur rumah. Adapun kriteria tanaman yang akan dibuat menjadi bonsai yaitu tanaman dikotil, berumur panjang, tahan hidup menderita, bentuknya indah secara alami dan tahan mendapat perlakuan. Setelah diperoleh kriteria tersebut maka dilanjutkan dengan teknik pembudidayaan tanaman bonsai. Teknik pembudidayaan tanaman bonsai meliputi proses pembuatan bibit tanaman bonsai, pemilihan media tanam bonsai, dan penanaman serta pemeliharaan tanaman bonsai yang didalamnya mencangkup penentuan gaya tanaman bonsai, teknik pembentukan dan penyempurnaan tanaman bonsai.

Setiap jenis tanaman memiliki batasan kerdil yang berbeda. Bisa saja tanaman yang tingginya 1 meter dikategorikan kerdil, dan yang tingginya hanya 0,5 meter tidak masuk dalam kategori kerdil. Jadi , kerdil dalam seni bonsai adalah tanaman yang memiliki penampilan lebih mungil dari pada tanaman aslinya. Karenanya, tanaman herba atau semak meskipun tingginya kurang dari 1 meter tidak bisa dikategorikan kerdil. Pasalnya di habitat aslinya memang tingginya hanya sekitar 1 meter.

Budidaya tanaman bonsai dapat melambangkan kesabaran dan tingginya tingkat kreativitas si pemilik, budidaya bonsai membutuhkan kreativitas, kesabaran, ketekunan dan kecintaan pembuatannya terhadap tanaman sebagai landasan utama dalam pembuatan dan perawatan bonsai. Bertanam bonsai dapat menciptakan kepuasan tersendiri saat mereka berhasil menciptakan bentuk yang unik pada bonsai kebanggaan mereka dan banyak menjadikannya sebagai salah satu koleksi untuk menghias rumah.

Namun dewasa ini masih sedikit orang yang bisa membudidayakan tanaman ini. Hal ini dikarenakan kurangnya pengetahuan yang mereka miliki tetang teknik dan cara dalam membudidayakan tanaman bonsai tersebut. Padahal jika mereka mau belajar, mereka dapat menkreasikan bentuk tanaman bonsai sesuai keinginan mereka, sehingga dapat memberikan kepuasan tersendiri bagi pemiliknya. Karena masih minimnya pengetahuan masyarakat tentang bagaimana cara membudidayakan tanaman bonsai, dan begitu banyak mannfaat yang di dapat dari pembudidayaan tanaman bonsai tersebut,  maka untuk itu pada artikel ini perlu dibahas mengenai teknik budidaya tanaman hias bonsai.

Aturan dan Jenis Tanaman untuk Membuat Mame Bonsai

Berdasarkan ukurannya bonsai digolongkan menjadi lima kategori, dan mame bonsai merupakan kategori paling mini. Namun karena sulit menghasilkan bonsai berukuran mini dengan bentuk yang seimbang proporsinya, maka aturannya dilonggarkan. Berikut ini perkembangannya. 
contoh mame bonsai

Dalam dunia perbonsaian dikenal adanya istilah mame bonsai, yaitu salah satu katagori bonsai yang ukurannya paling kecil. Jika ada aturan bahwa bonsai mini paling tinggi ukurannya maksimal 8 cm. Maka kini umumnya yang disebut dengan mame bonsai ukurannya dapat mencapai 12 cm. Dan ada juga yang menyebut mame bonsai berukuran maksimal 15 cm. Sebetlnya ini hanyalah sudut pandang bagi pecinta bonsai. Apapun ukurannya bonsai yang baik harus memiliki kualitas yang mumpuni. 

Bonsai yang berkualitas tentu terhindar dari cacat. Baik fisik maupun non fisik. Bonsai yang baik harus melalui masa training yang benar dan memakan waktu yang lama. Makin lama bonsai mengalami masa training di dalam pot maka akan terlihat jelas dari segi keutaannya. Akan berbeda jika bonsai yang tidak mengalami masa pelatihan yang lama. Ia akan tamaka seperti tanaman yang kecil tidak menunjukan keanggeran. 

Membuat mame bonsai pada dasarnya sama saja dengan membuat bonsai yang berukuran lebih besar, hanya lebih memerlukan ketelatenan dan kesabaran. Kesulitan yang sering muncul dalam membuat mame bonsai adalah dalam menghasilkan ranting. Biasanya ini disebabkan oleh media tanam yang digunakan tidak cocok. Untuk membuat mame bonsai selain kesuburan jga struktur media tanamnya harus disesuaikan dengan masa training. Selian itu karena pot untuk membuat mame bonsai berukuran kecil, maka masa penggantian media tanamnya harus lebih pendek daripada bonsai yang berukuran lebih besar dengan pot yang lebih besar pulan. 

Untuk membuat mame bonsai, hal-hal di bawah inilah yang perlu dieperhatikan, yaitu :
1. Tanaman bakal bonsai sebaiknya dari bibit asal biji, stek, atua cangkokan, karena lebih mudah dibentuk an gampang diarahkan gayanya, daripada bibit asal galian dari alam.
2. Untuk tahap awal bahan bonsai ditanam dalam pot sementara, yang ukurannya dua kali lipat pot bonsai permanen nantinya. Tujuannya agar tanaman cepat besar dan membentuk cabang dan ranting yang banyak.  
3. Media tanam yang digunakan harus subur. Selama dua tahun pertama masa training, media tanamnya harus berstruktur kasar. Tiga tahun berikutnya, diganti dengan media tanam yang lebih halus, tetapi masih agak kasar. Baru setelah itu, media tanam yang harus digunakan. 
4. Kawat untuk pembentukan harus pasa dan benar besar dan kecilnya. Tidak boleh terlalu kecil atau sebalinya. Pada saat pengawatan, lima belas hari sesudahnya sudah harus dieriksa, jika tanamannya jenis yang cepat pertumbuhannya. Jika keburu membesar, dapat menimbulkan luka di bekas lilitannya. Jika tanamannya jenis yang lambat pertumbuhannya, diperiksa enam minggu setelah pengkawatan. 
5.  Peangkaan untuk mengecilkan daun dilakukan kalau ranting-rantingnya sudah cukup banyak . kalau keburu dilakukan, akan kesulitan dalam pembentukan ranting. 
6. Pemangkasan cabang dan ranting dilakukan kalau bonsai sudah tua benar dan sebaliknya dilakukan setiap enam bulan sekali. 
7. Penggantian media tanam berikut pemangksan akar, sebaiknya dilkukan enam bulan sekali. Sebab potnya kecil, sehingga lebih cepat dipenuhi akar. Berbeda dengan bonsai yang berukuran lebih besar, penggantian media tanamnya biasanya cukup setiap 1 atau 2 tahun sekali. 

Jenis tanaman untuk Mame Bonsai
Kesulitan lain dalam pembuatan bonsai mini ini ialah tercapainya bentuk yang seimbagn dengan ukuran yang sekecil itu. 
Karena itu tidak semua jenis tanaman bisa ideal untuk membuat mame bonsai. Berdasarkan pengamatan beberapa jenis yang telah berhasil baik untuk dibuat mame bonsai adalah mirten, beringin, beringin karet, cemara buaya, cemara duri, cemara puapua, serut pagar, dan ulmus. 

Membuat Bonsai dari Tanaman Landepan

Landepan (plectronia horrida0, merupakan jenis tanaman semak berkayu yang tumbuh liar di tanah-tanah kapur yang gersang di dataran rendah. Ia banyak dijumpai di Pulau Jawa. Tanaman landepan ini memiliki beberapa sifat ideal yang dapat dijadikan tanaman bonsai. Tidak hanya bonsai asal-asalan. Bonsai dari Landepan dapat berniali tinggi.

Ukuran daun yang relatif kecil dan tebal, dan dapat diperkecil lagi sesuai dengan masa pembonsean.Kulit kayunya berwarna putih, yang nampak kontras dengan warna daunnya yang sangat cerah berkilat. Kelebihan tanaman landepan ini, salah satunya adalah tahan akan media tanam yang terbatas akan unsur haranya. Tanaman Landepan mudah bertunas sampai ke cabang dan rsranting-rantingnya. Hal ini apabila di lakukan tahapan pembonsean yang benar, maka akan membentuk tajuk yang kompak pada saatnya. Tanaman ini juga memiliki keuntungan tesendiri bagi pebonsai, karena landepan amat lambat tumbuh. Sehingga pemangkasan terhadapt tanaman ini tidak perlu sesering mungkin. 

Tanaman landepan tahan ditanam di segala tempat, baik dipans terik dan berangin, maupun ditempt yang agak teduh. Ia dapat berbunga sangat banyak dan umumnya akan mekar secara serentak. Bunga tanaman landepan tergolong harum wangi. Berkat warnanya yang putih dan bau yang harum, maka ada yang menyebutnya sebgai melati hutan. Oleh sebab sifat-sifat yang ideal tersebut, Landepan menjadi bahan tanaman bonsai yang berkualitas. 

Landepan jika kita jumpai di banyak tempat di kepulaua Jawa, biasanya hanya menjadi sarang ular, karena cabangnya yang panjang, merunduk dan beduri halus. Tentu bagi para kreator bonsai hal ini tidak menjadi halangan. Landepan bahkan pernah menjadi primadona bonsai di Indonesia. Tanaman ini dapat diperbanyak dengan cara cangkok, stek, atau pemecahan akar.

Masa Pembentukan Bonsai
Dalam masa pembentukannya, banyak cabang dari tanaman landepan yang harus dipotong dan dibuang. Karena tanaman ini selalu bertunas pada ketinggian yang sama, sehingga salah satu cabangnya harus dihilangkan. Batang atau cabang yang tumbuh tegak umumnya memiliki ruas-ruas yang agak panjang, sedangkan cabang yang tumbuh ke samping, ruas-ruasnya sangat pendek. Hal ini perlu diperhatikan dalam pembentukan puncak pada bonsai. 

Batang yang tegak harus dipotong, dan cabang yang tumbuh mendatar dibawahnya ditegakan dan dibentuk sebagai puncak "baru". Dengan demikian akan diperoleh puncak yang kompak karena ruas-ruas di tempat tersebut sangat pendek.Selama masih dalam taraf pembentukan, sebaiknya digunakan medai tanam dari campuran humus, tanah,pasir dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Selanjutnya bila bonsai telah relatif jadi, maka kadar humus dari tanahnya bisa dikurangi hingga tinggal 50 % berupa pasir. 

Yang perlu diperhatikan, bonsai landepan menghendaki drainase atau pengeringan media tanam yang baik. Pengeringan yang tidak baik akan menyebabkan busuk pada akar, sehingga sebagian atau keseluruhan tanaman ini akan mati. Bonsai landepan dapat tahan dua sampai tiga hari di dalam ruangan. Di lokasi yang teduh daun bonsai landepan tumbuh agak besar dibanding dengan daun landepan yang sering terkena sinar matahari. 

Cara Membuat Bonsai

Langkah-Langkah Membuat Bonsai

Bonsai merupakan salah satu teknik memperindah tanaman hias. Hal utama membuat bonsai adalah keuletan. Tanpa itu bonsai yang bernilai tidak akan pernah tercapai. Membuat bonsai membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Membutuhkan proses yang panjang dan kesabaran dalam menekuni dunia perbonsaian. Sebelum Anda mencoba membuat bonsai perlu kiranya Anda mengetahui tentang langkah-langkah membuat bonsai.
Berikut beberapa langkah dalam membuat bonsai ;

Kriteria Tanaman yang Bisa Dibonsai

Tanaman atau pohon yang akan dibuat menjadi bonsai disebut dengan bakalan bonsai. Bakalan bonsai berupa tanaman yang diambil dari alam atau dari hasil perbanyakan, baik biji, setek, cangkok, okulasi, maupun enten. Dari mana pun asalnya, tanaman yang dimaksud harus memiliki kriteria-kriteria khusus untuk dapat dijadikan tanaman hias bonsai. Jika kriteria-kriteria tersebut terpenuhi, tentu tanaman tersebut dapat dijadikan bonsai yang sempurna. Umumnya, tanaman yang akan dibonsai harus memenuhi kriteria-kriteria sebagai berikut : 

1) Tanaman dikotil, atau tanaman berkeping dua umumnya berbentuk pohon yang keras dan berekambium. Jenis tanaman inilah yang paling ideal dijadikan bonsai. Tanaman jenis monokotil (seperti jenis kelapa, bambu, semak dan perdu) bisa juga dikerdilkan, tetapi disebut denganbonsai sejati.

2) Berumur panjang, pasalnya, bonsai merupakan seni yang terus tumbuh, sehingga memerlukan tanaman yang bisa bertahan hidup puluhan, bahkan ratusan tahun.

3) Tahan hidup menderita, sebaiknya tahan hujan dan panas. Selain itu, juga tahan terhadap kondisi wadah yang sempit dan terbatas. Sebagai bonsai, tanaman harus biasa hidup terus meskipun jumlah makanan atau nutrisinya sedikit dengan perkembangan akar dan batang yang seadanya.

4) Bentuknya indah secara alami. Pohon yang akan dibonsai harus sudah memiliki daya tarik atau keindahan, baik daun, batang, akar, bunga, maupun buahnya. Keindahan tersebut akan semakin menonjol dan proporsional setelah mendapatkan perlakuan sesuai dengan tata cara pembonsaian yang benar.

5) Tahan mendapat perlakuan. Untuk mendapatkan bonsai yang sempurna, pohon atau bakal bonsai perlu diperlakukan dengan teknik-teknik tertentu (detraining), misalnya diiris, dipangkas, dan dililit dengan kawat guna untuk mendapatkan bentuk yang sempurna. Contoh tanaman yang bisa dibuat bonsai di antaranya, yaitu Azalea, Pinus, Asam, Ulmus, Jeruk, Beringin, Bougenvill, Buxux, Sianto, dan lain sebagainya.

Pembuatan Bibit Tanaman Bonsai
Pembuatan bibit untuk bonsai atau bakal bonsai dapat dimulai dari pemilihan langsung jenis pohon yang memiliki cabang yang banyak yang nantinya tinggal diberikan perlakuan tertentu, seperti dipotong, dan dikreasikan agar dapat dibentuk menjadi tanaman bonsai. Disamping itu teknik pembuatan bibit tanaman bonsai dapat diperoleh dari biji yang khusus untuk disemaikan atau dari semai yang ada di alam bebas, setekan atau cangkokan yang pembuatannya memerlukan sedikit keterampilan, okulasi, dan bongkah-bongkah tanaman yang masih bertunas dan masih nampak bertahan untuk hidup.

1) Semai Bakal Bonsai.

Perolehan bibit tanaman bonsai dengan cara penyemaian sendiri dirasa kurang efisien, karena akan memakan waktu cukup lama.

 2) Setek, Cangkok dan Okulasi

Menyetek, mencangkok dan membuat okulasi merupakan seni tersendiri. Pembuatan bibit tanaman bonsai dengan cara menyetek dan mencangkok dapat menghasilkan tanaman baru dalam jangka waktu yang relatif singkat (1-2 bulan). Sedangkan membuat okulasi bisa membutuhkan waktu lebih dari 1 tahun. Jenis stek yang dikenal yaitu : setek lunak atau setengah lunak, setek keras, dan setek daun.

Untuk mencangkok, dipilihlah dahan minimal sebesar pensil atau ibu jari, dan kulitnya mudah dikelupas (tidak lengket). Teknik mencangkok 1) Kupas kulit dahan selebar 3-5 cm, 2) Buang lendirnya dengan mengerok atau melap dengan kain yang kering, 3) Biarkan 3-4 hari, 4) Kemudian tutup lukanya dengan mos yang dibasahi atau campuran antara tanah dan remah dengan kompos yang tua dengan perbandingan 1:1, 5) Balut mos atau tanah dengan lembaran plastik, dan ikat baik-baik di bagian atas dan bawah, 6) Dengan jarum lembaran plastik dilubangi agar sirkulasi udara dapat berlangsung dengan baik.

Untuk membikin okulasi dapat dilakukan pada jenis pohon misalnya buah-buahan yang akan dijadikan bonsai. Bibit okulasi terdiri dari 2 (dua) bagian yaitu: a) Batang bawah (onderstam), b) Batang atas (entrijs). Langkah-langkah dalam perokulasian:
1) Batang pokok bersihkan 15 cm di atas tanah,
2) Sayat kulit 10 cm dari atas tanah selebar 8 mm, dengan membikin keratan di bagian atas dan kanan kiri menurun ± 4 cm panjang,
3) Tarik kulit ke bawah, sehingga menyerupai lidah, kemudian potong separuhnya,
4) Sayat mata dari dahan entrijs, dengan kayunya sedikit dari bawah ke atas, panjang ± 4 cm di atas mata yang merata, sehingga pas betul menempel pada keratan pohon pokok,
5) Angkat kayu perlahan-lahan tanpa merusak matanya,
6) Kulit yang bermata, masukkan antara kayu dan kulit lidah batang pokok, yang telah dibuka, dan tempelkan kembali, usahakan matanya tidak tertutup,
7) Balut dengan tali raffia yang erat.

 Pemilihan Media Tanam Bonsai

 Bonsai ditanam di dalam pot yang tipis, oleh karena itu media tanamnya sangat terbatas. Hal ini menyebabkan bonsai hanya memiliki persediaan nutrisi tanaman yang terbatas dan sangat sensitif terhadap air siraman atau air hujan. Media tanam yang baik harus mengandung nutrisi dan bahan mineral yang cukup agar tanaman dapat hidup dan bertumbuh dengan baik. Macam-macam bahan yang di pakai untuk campuran media tanam bonsai meliputi.

1) Pasir, bahan ini memiliki sifat porous sehingga mudah meneruskan air, mencegah air menggenangi media untuk waktu yang lama, dan memudahkan udara masuk ke dalam media tanam.

2) Tanah, tanah yang umum dipakai yaitu tanah gunung yang hitam atau cokelat tua dan tanah merah.

3) Humus, humus berasal dari dedaunan atau ranting pohon yang sudah mengalami proses pelapukan alami untuk jangka waktu yang lama. Humus mengandung banyak zat hara dan mikroorganisme yang bermanfaat bagi tanaman.

4) Kompos, kompos banyak mengandung unsur hara dan biasanya di tambahkan pada tumbuhan agar berkembang dengan baik sesuai genetis dan potensi produksinya. pupuk kompos bisa di buat dalam bermacam-macam bentuk meliputi cair, curah, tablet, pelet, dan briket.

5) Pupuk kandang, pupuk kandang yang biasa di pakai dari kotoran kambing. pupuk kandang yang boleh di pakai yaitu sudah matang, yang warnanya cokelat tua atau hitam dan tidak bau. Media tanamnya memerlukan tanah atau humus lebih banyak agar dapat mempertahankan air/kelembaban. Ada juga tanaman yang memerlukan nutrisi lebih banyak dari tanaman yang lain. Untuk itu, media tanamnya harus mengandung humus dan pupuk lebih banyak.
  
Penanaman dan Pemeliharaan Tanaman Bonsai
Penanaman tanaman bonsai diawali dengan pemilihan tanaman dengan batang utama yang cukup kuat kemudian memindahkan ke pot. Selanjutnya bentuk alur tanaman sesuai dengan yang anda suka dengan memakai kawat. Periksa ranting dan cabang yang tumbuh secara rutin untuk membentuk bonsai sesuai dengan apa yang kita mau. Hal lain yang tak kalah penting adalah pemilihan tanah, karena disanalah pembentukan batang, ranting dan dahan ditentukan. Pilihlah tanah dengan kadar humus sedikit dan jagalah kelembaban tanah tersebut namun jangan biarkan terlalu banyak air atau sampai menyebabkan tanah menggumpal, karena dapat mengancam hidup tanaman.

Disamping itu ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam peneneman tanaman bonsai seperti : 1) Pot dan isinya. Pot merupakan sarana dalam kreasi bonsai yang tidak kalah penting dengan bonsai sendiri. Selain pot berbentuk baki, semua pot bonsai diperlengkapi dengan satu atau lebih lubang pembuangan air, yang ditutup dengan gas plastik atau yang lain. Resep umum medium untuk tanaman yang berdaun lebar (Beringin, getahperca, sawo, dan sebagainya) adalah: 50 % tanah liat sedang, 20 % pasir dan 30 % kompos;
2) Mengisi pot. Mengisi pot untuk tanaman bonsai merupakan duplikasi dari keadaan yang sebenarnya di alam bebas. Lapisan paling atasnya atau topsil, tebalnya tidak lebih dari 35 cm bersifat cerul, penuh dengan humus, dan subur. Lapisan kedua masih lunak, masih dapat menyalurkan air ke bawah menjadi air tanah. Lapisan ketiga bisa berbentuk lapisan tanah yang banyak batu-batuan berukuran beraneka ragam dan akhirnya lapisan paling bawah adalah lapisan induk batu yang kedap air;
3) Pengamanan isi pot. Batu kerikil, pasir dan tanah bisa mengandung serangga tanah yang membahayakan tanaman bonsai, terutama cacing dan nematoda. Untuk itu diperlukannya untuk memfilter isi pot agar terbebas dari Cacing tanah, serangga, jenis-jenis penyakit, dan Biji-biji rerumputan dan sebaginya terdapat di dalam tanah, agar tanaman tidak terganggu pertumbuhannya.;
4) Pemeliharaan setelah tanam. Setelah penanaman selesai, siram bakal bonsai dan tanahnya dengan mempergunakan spayer yang halus. Air penyiraman harus bersih dan tidak berlumpur dan nentral (tawar). Hentikan penyiraman jika air sudah berkelebihan dan mengalir ke luar melalui lubang air. Tempatkan kemudian bakal bonsai di tempat yang teduh, tidak banyak angin dan bebas dari gangguan anak-anak atau hewan kesayangan. Untuk mempercepat tumbuhnya kembali (recovering) bakal bonsai dapat diusahakan dengan menutup seluruh tanaman dengan kantung plastik transparan.
  
Gaya Tanaman Bonsai

Penentuan gaya bonsai yang diinginkan tentunya mengacu pada ukuran bonsai. Ukuran bonsai diukur dari tepi atas pot sampai ke puncak mahkota. Berdasarkan ukurannya, bonsai dikelompokkan menjadi lima kategori yaitu, kecil sekali ( mame bonsai ) tinggi s/d 15 cm, kecil ( small bonsai ) tinggi 15-30 cm, sedang ( medium bonsai) tinggi 30-60 cm, besar ( large bonsai) tinggi 60-100 cm, besar sekali ( extra large ) tinggi 100-150 cm.

Pada mulanya, bonsai hanya di buat menurut lima gaya yang terdiri dari gaya tegak lurus (chokan), tegak berliku (tachiki), miring (shakan), setengah menggantung (hang kengai), dan menggantung (kengai).

Seiring dengan perkembangan zaman, kelima gaya dasar tersebut kemudian berkembang menjadi gaya-gaya yang lain seperti berikut.Berumpun (kabudachi). Dari satu batang tanaman di permukaan tanah, pecah menjadi beberapa batang, bisa jadi 5,6,7 batang dan seterusnya yang masing-masing mempunyai satu mahkota lengkap. Kubah (hoki tsukuri).Batang tumbuh ke atas kemudian pecah menjadi beberapa cabang yang ujung-ujung daunnya membentuk kubah dengan perakaran yang kokoh ada di sekeliling batang. Akar terjalin (netsu neagari). Terdiri dari beberapa batang dan masing-masing batang tersambung oleh akar yang tampak di permukaan tanah. Rakit (ikada). Batang aslinya yang rubuh akan menjadi bonggol perakaran yang memanjang dan menghubungkan batang baru, yang terbentuk dari cabang-cabang pohon lama. Tampil akar (neagari).Perakaran ditampilkan menonjol keluar di atas permukaan media tanam dan keindahannya menjadi pusat perhatian. Disamping itu ada gaya tumbuh di batu. Tumbuh di dalam sela-sela batu/shizuke, atau tumbuh di atas batu/sekijoju, dengan perakaran tampak menonjol, bahkan mencengkram batu. Terpelintir (nejikan). Batang atau cabang terpelintir, gaya ini terbagi dua, yaitu satu cabang atau batang terpelintir. Selain itu ada yang dua batang atau dua akar yang saling memlintir satu sama lain. Sastrawan (Bunjin).Batang tanaman tinggi , mempunyai liukan, mahkota dan juga ranting-rantingnya hanya berdaun sedikit.

Merunduk (shidare tsukuri). Pada gaya jenis ini mulai dari cabang dan ranting semuanya merunduk ke bawah. Tertiup (fukinagashi). Pohon ini seakan tertiup angin terus-menerus sehingga semua perantingan mengarah ke satu sisi. Daun tidak rimbun, hanya tipis dan sedikit saja. Keringan (sharimiki), cabang atau ranting yang sudah kering/mati total, yang dapat berasal dari pohon itu sendiri atau merupakan buatan manusia (ditempel).Berbatang banyak. Berbatang dua (sokan), berbatang tiga (sankan), berbatang lima (gokan), dan seterusnya. dan berkelompok (yose ue).Biasanya terdiri dari sekelompok pohon yang di tata dalam sebuah pot tipis sehingga memberi kesan pemandangan yang luas seperti hutan atau kebun

 Tahap Pembentukan Bonsai
Membentuk tanaman kerdil alias bonsai pada hakikatnya ialah membuat duplikat dari bentuk-bentuk pohon-pohon di alam bebas yang tetap di bawah ukuran yang normal. Adapun tahap dalam pembentukan bonsai yaitu:

1) Tahap pertama, membentuk kerangka dasar. Bakal bonsai yang sudah siap untuk diberi kerangka dasar adalah yang sudah benar-benar sehat kembali, setelah mengalami pemindahan. Batang pokoknya praktis sudah tidak tergoyahkan lagi dan sudah cukup mencapai ketinggian yang diperlukan pada akhirnya untuk dibentuk. Sebelum membentuk kerangka dasar, rencanakan terlebih dahulu masak-masak bentuk bonsai yang dikhayalkan, dan bagaimana kira-kira bentuk bonsai pada akhirnya nanti.

2) Tahap kedua merubah arah dan bentuk. Merubah bentuk dan arah tumbuhnya batang pokok dan dahan-dahan merupakan suatu paksaan dan memakan waktu hingga bentuk dan arah yang dikehendaki tercapai.Untuk keperluan tersebut diperlukan sarana untuk memudahkan pelaksanaannya seperti kawat kuningan dari beberapa ukuran diameternya, tali raffia, tang untuk memotong kawat, gunting pemangkas, gunting biasa, pisau kecil yang tajam, tang yang runcing ujungnya dan cellotape.

 Penyempurnaan Bentuk Bonsai
Tidak semua jenis tanaman dapat dikerdilkan. Tanaman yang dapat memenuhi persyaratan untuk dikerdilkan adalah tanaman yang mempunyai daun berukuran kecil, misalnya Beringin, jeruk kingki (Triphasi aurantium), jenis-jenis coniper (cemara, pinus ), delima (punika granatum) dan sebagainya. Penyempurnaan bonsai kini letaknya untuk menyusun ranting-ranting dengan daunnya yang cukup lebat, namun seimbang dengan bentuk dan ukuran bonsai keseluruhannya. Pengendalian pertumbuhan pada tanaman bonsai dilaksanakan melalui pemangkasan dan pengetipan / pemetikan titik tumbuh. Pemangkasan dilakukan dengan cara memotong dahan atau ranting yang sedekat mungkin dengan kuntum yang nampak sehat tutup lukanya yang besar dengan paraffin. Setelah itu dilanjutkan dengan melilit dahan-dahan yang memanjang menggunakan kawat selama pertumbuhan baru, untuk membentuk penampilan bonsai selanjutnya, hasil yang cukup mengesankan baru dapat dicapai setelah beberapa tahun.

 Beberapa teknik yang sering digunakan untuk memperbanyak bonsai adalah dengan pemotongan bagian vegetatif dan layering. Kedua cara ini digemari para pebisnis bonsai karena relatif cepat dan mudah. Anda bisa memotong percabangan bonsai, kemudian menanamnya pada media tumbuhyang sesuai untuk menghasilkan bonsai baru.
Ranting bonsai yang dipotong harus cukup tebal dan kokoh agar bisa menjadi anakan baru yang cantik. Jika ranting yang Anda potong berasal dari bonsai yang telah cukup tua, maka anakannya pun akan memiliki kesan setua induknya, dan ini merupakan nilai plus tersendiri bagi bonsai Anda. Memang pemunculan akar dari ranting yang sudah tua lebih lama jika dibandingkan dengan ranting yang masih muda. Namun, tidak ada salahnya mencoba bukan? Anakan hasil potongan harus dibiarkan tumbuh sekitar 6 bulan terlebih dahulu, baru Anda boleh mem-bonsainya.
  
Teknik perbanyakan bonsai yang kedua adalah dengan layering. Teknik ini mirip dengan cangkok, yaitu membiarkan ranting membentuk akar selama masih menempel pada induknya. Prosedurnya pun dapat dilakukan dengan cara cangkok biasa, yaitu mengupas kulit kayu pada bagian yang ingin dijadikan anakan baru, menyelimutinya dengan media lalu dibungkus plastik. Cangkokan terus disiram sampai tumbuh akar. Jika akar telah tumbuh, Anda boleh memindahkan anakan tersebut ke media yang terpisah dari induknya. Biasanya bagian yang dicangkok adalah cabang yang cukup tebal agar anakan bonsai tumbuh seindah bonsai induknya dengan kokoh. Anda juga dapat melakukan cangkok bonsai pada bagian akar atau tunas.
Teknik lainnya yang cukup umum digunakan adalah menyambung beberapa jenis bonsai untuk menghasilkan varian baru. Misalnya bonsai spesies A akan disambungkan dengan spesies B. Ranting bonsai A dipotong, sementara kulit kayu bonsai B dikupas pada bagian yang ingin disambungkan. Tempelkan potongan bonsai A pada bagian bonsai B yang telah dikupas, bungkus dengan plastik yang telah diberi semprotan hormone agar kedua bagian cepat menyatu.
Kultur bonsai juga bisa didapatkan dengan potongan daun. Namun, cara ini tidak selalu berhasil pada semua spesies. Cari lah referansi lain yang bisa dijadikan sebagai pendukung. Semoga artikel ini bermanfaat, dan anda berhasil dalam membuidaya bonsai.


Demikian beberapa langkah dalam membuat bonsai.

Cara Membentuk Cabang Bonsai

Cara-Cara Sederhana Membentuk Cabang Bonsai

Agar bonsai bernilai tinggi, cabangnya harus diatur sesuai dengan beberapa kriteria. Berikut ini beberapa kriteria dan cara membentuk cabang bonsai.
Cabang memegang peranan penting dalam membentuk kesimbangan bentuk bonsai. Seperti halnya pada akar dan batang, cabang bonsai yang ideal  juga harus memenuhi beberapa kriteria, yang antara lain sebagai berikut. 

Bentuk Daun dan Ukurannya
Cabang Bonsai, harus besar dipangkal dan makin kecil diujungnya. Bentuknya harus sesuai dengan bentuk asli pada pohon di alam. Cabang bonsai yang bentuknya dari pangkal ke jung besarnya hampir sama, nialainya rendah dan menandakan proses pembentukannya tergesa-gesa. 
Agar cabang bentuknya sesuai dengan kriteria diatas maka perlu langkah yaitu pemangkasan bentuk. Caranya, dengan memangkas cabang yang akan dibentuk itu sedikit diatas atau didepan ranting. Kemudian salah satu ranting yang terdekat dengan letak potongannya, dililit dengan kawat tembaga dan arahnya diatur agar ranting tersebut seolah-olah merupakan bagian ujung cabang. Ranting itu lalu dipelihara samapai besarnya sedikit lebih kecil dari besarnya cabang, sehingga tampak seperti ujung cabang. 
Untuk mencapai bentuk cabang yang ideal dan ukurannya pas, pemangkasan bentuk dari sebuah cabang bonsai biasanya mesti dilakukan beberapa kali, sampai mencapai bentuk yang ideal yang kita inginkan.
Ukuran cabang di bagian bawah harus lebih besar dari cabang yang di atasnya. Besarnya pangkal cabang, idealnya memiliki sepertiga diameter batang ditempat cabang itu tumbuh. 

Membentuk Arah Cabang Bonsai
Arah pertumbuhan cabang harus diatur mendatar atau agak merunduk, meniru arah cabang dari pohon tua yang tumbuh dialam. Untuk membuat pertumbuhan cabang ini sesuai dengan keinginan kita dapat dilakukan dengan cara melilitkan kawat tembaga atau jenis lain dan memaksanya kearah tertentu sedemikian rupa agar bentuknya ideal dan serasi. Cabang yang sudah kaku dan tidak dapat diarahkan dengan melilitkan kawat, bisa dipaksa dengan cara mengaitkan kawat pada ujung cabang tersebut kemudian menariknya ke bawah dan kawat bagian ujung bawahnya diikatkan pada pot atau benda lain. 

Membentuk Ranting Bonsai
Seperti halnya cabang, bentuk ranting juga harus besar di pangkal dan mengecil ke arah ujung. Untuk itu ranting juga perlu dipangkas seperti halnya cabang tanaman yang akan dibonsai. Sebuah cabang bonsai dapat dikatakan telah mempunyai ranting yang lengkap apabila batangan rantingnya yang terlebar berukuran tepat setengah dari batang cabangnya. 

Demikian beberapa langkah sederhana cara membentuk cabang bonsai. 

Mudahnya Membuat Bonsai dengan Serut

Mengenal Tanaman Serut
Serut adalah jenis tanaman yang sudah lama populer sebagai bahan bonsai. Tidak jarang bonsai dari tanaman ini mahal harganya, karena memang tanaman serut ini sangat cocok untuk dibuat bonsai.
Serut dalam bahasa latinnya Streblus asper, banyak dijumpai di dataran rendah di bagian utara pulau Jawa, Sumatera. Pada dasarnya serut memang sudah memiliki daun kecil. Namun setelah mengalami masa perawatan sebagai bonsai, daun serut akan menjadi lebih kecil lagi. Kulit kayunya berwarna putih, bertolak belakang dengan warna daunnya. Hal ini menjadi salah satu daya tarik tanaman ini. Selain memiliki keunikan akan daun serta kulit kayu yang berwarna putih, tanaman ini juga dapat tumbuh dengan baik apabila ditanam di dalam pot. Saat ditanam di dalam pot tanaman ini masih dapat membentuk cabang dan ranting. Batangnya juga mudah tumbuh tunas, sehingga mudah dalam pemilihan cabang yang akan dibosai. Tanaman ini memiliki buah yang berwana hijau dan juga berbunga berwarna putih. Baik bunga dan buahnya tidak begitu menonjol karena terlalu kecil ukurannya. 

Kebiasaan Tanaman Serut 
Pada saat musim kemarau, kebiasaan tanaman serut ini adalah merontokan daunnya. Namun kurang lebih seminggu kemudian, tunas-tunas baru akan bermunculan. Jadi jika kebetulan anda memiliki tanaman ini baik berupa bonsai maupun tidak, jika tiba-tiba daunnya rontok Anda tidak perlu cemas. Ini adalah salah satu kelakuan yang khas yang dimiliki serut. 
Umur tanaman serut dapat dikatakan amat panjang, dapat tumbuh sampai ratusan tahun. Dan sebagai tanaman bonsai ia tidak rewel menuntut perawatan yang aneh-anah. 

Cara Perkembangbiakan Tanaman Serut
Kebanyakan bonsai serut yang ada masih galian dari alam. Padahal tanaman ini mudah dikembangbiakan, yaitu dengan tunas akar, cangkok maupun dengan cara stek. Hanya memang cara terakhir memang agak sulit, sehingga dibutuhkan perlakuan dan perawatan khusus. 
Memindahkan tanaman serut ke dalam pot harus dilakukan dengan hati-hati. Tanaman ini sangat peka terhadap pemotongan akar. Bilamana perlu penggaliannya dilakukan secara bertahap. Pertama, potong dulu sebagian akarnya, kemudian timbun lagi dengan tanah. Lebih kurang dua bulan berikutnya, pemotongan tahap kedua yang merupakan pemotngan seluruhnya dapat dilakukan. Setelah melalui cara tersebut, tanaman serut dapat dipindahkan ke dalam pot besar terlebih dahulu, yang merupakan pot sementara. 

Media Tanam Tanaman atau Bonsai Serut
Selama masa training (pembentukan), agar ia tumbuh sehat, sebaiknya digunakan media tanaman tanah gunung dicampur pupuk kandang atau humus, dengan perbandingan 1: 1. Pada media tanaman ini, cabang dan rantingya akan tumbuh subur dan cepat besar, sehingga cepat mencapai keseimbangan dengan besarnya batang. Jika keseimbangan dirasakan sudah cukup, tanaman dapat dipindahkan ke dalam pot bosai yang permanen. Media tanamannya sebaiknya berupa campuran antara tanah gunung, humus, dan pasir dengan perbandingan 1:1:1.
Bonsai serut menyukai sinar matahari pnuh, maka harus diletakan di tempat yang terbuka yang terkena sinar matahari sepanjang hari. Di tempat itu, ia akan tumbuh baik dan daunnya dapat lebih kecil, serta tahan penyakit. Jika diletakan pada tempat yang kurang sinar mataharinya, pertumbuhannya akan terganggu, akarnya tidak berkembang biak, daunnya besar-besar, dan ruas cabang atau ranting panjang-panjang. 
Bonsai serut minimal harus disiram satu kali sehari. Jika sistem drainase potnya baik, penyiraman dapat dilakukan dua kali sehari, terutama pada musim kemarau. 

Hama Pada Tanaman atau Bonsai Serut
Musuh utama bonsai serut adalah kutu putih yang mengeluarkan embun madu yang manis rasanya. Penyebaran kutu ini dibantu oleh semut yang menyukai embun madunya. Selain itu, embun madu ini merupakan media tumbuh yang baik bagi cendawan jelaga yang suka menutupi daun sehingga hitam warnanya. Untuk menanggulangi hal ini, bonsai serut sebaiknya di semprot insektisida atau fungisida secara rutin. Bila perlu bagian yang sudah terserang disikat untuk dibersihkan. 

Tips Merawat Bonsai Bugenvil

Bugenvil merupakan tanaman asli Amerika Selatana. Bugenvil termasuk dalam keluarga Nyctaginaceae. Tanaman ini dapat tumbuh setinggi 4 meter. Selain dibiarkan tumbuh secara alami, bugenvil juga merupakan salah satu tanaman yang dapat dibuat bonsai. 

Bagaimana cara perawatan bonsai bugenvil. Di bawah ini kami uraikan beberapa tips cara perawatan bonsai bugenvil;
1. Cahaya Matahari
Sinar matahari cukup diperlukan bagi bugenvil agar dapat tumbuh optimal. Untuk mendapatkan cahaya matahari, sesekali letakan bonsai  bugenvil keluar ruangan. Waktu yang tepat untuk bugenvil mendapt sinar matahari langsung adalah sekitar jam 8 - 10 pagi. 
2. Media Tanam alias tanah
Media tanam yang baik salah satu cirinya adalah memiliki drainase yang baik, artinya media tanam tidak boleh terlalu padat. Beberapa bahan organik dapat ditambahkan untuk pencampuran media tanam. 
3. Penyiraman 
Bugenvil merupakan salah satu tanaman yang tidak memerlukan banyak air, artinya tumbuhan ini tahan akan kebutuhan air. Namun demikian sebaiknya lakukan juga penyiraman yang rutin beberapa hari sekali. Lakukan penyiraman jika benar-benar media tanam sudah kering dan padat. 
4. Nutrisi
Bugenvil memerlukan berbagai nutrisi agar dapat tumbuh optimal. Beikan bahan pupuk rendah noitrogen untuk memastikan kecukupan gizi tanaman bonsai anda. 
5. Pemangkasan
Bonsai bugenvil cocok untuk memepercantik interior rumah anda. Untuk menjaga keindahan bugenvil, sebaiknya lakukan pemangkasan di bagian-bagian tertentu pada ranting bonsai bogenvil anda. 
6. Mengganti Pot
Seiring pertumbuhan bonsai, mengganti pot menjadi sesuatu hal yang penting. Penggantian pot dapat dilakukanm setiap dua atau tiga tahun. Lakukan pergantian pot dengan memperhatikan media tanam asal bugenvil. Jika tidak tepat biasanya bugenvil akan stres, yang ditandai dengan banyak daun yang kering dan berguguran. 
7. Hama
Hama yang umum menyerang bonsai bugenvil diantaranya adalah ulat, kutu daun dan jamur. Jika diperlukan gunakan insektisida atau fungisida untuk melindungi bonsai bugenvil dari serangan berbagai hama. 

Demikian beberapa tips merawat bonsai bugenvil kesayangan Anda.